Minggu, 07 Agustus 2011

Senyum yang Memudar


Hari ini, sempurna istimewa.

Aku kebanjiran ucapan serta doa-doa. Ada yang berdoa supaya sukses, semoga perkerjan lancar dan ada pula yang iseng berdoa moga cepat dapat jodoh. Ah..,ada-ada saja.
Di kamarku, ada sedikit tumpukan kado yang sebenarnya tidak pernah aku harapkan apalagi sampai aku minta. Tapi tak apalah, di atas semua itu aku sangat berterima kasih atas perhatian mereka. Ternyata memang asyik punya banyak teman dan saudara seperjuangan. Semoga esok lusa aku diberi sedikit kelapangan rizki untuk membalas kebaikan mereka.  

Dan yang paling penting, hari ini, hatiku masih berbunga-bunga, merekah seindah mawar. Tengoklah, dia masih tersenyum kepadaku, masih dengan senyum cerahnya. Secerah sang mentari dhuha.

Dengan bisikan pelan dia bertanya kepadaku.

“ Abang ingin hadiah apa?”

Aku menggeleng. Jarak kami hanya selangkah.

Aku beranjak menuju jendela. Memandang ke luar. Gerimis mulai turun perlahan. Aku menghela nafas panjang. Tanganku pelan menyentuh kaca jendela yang berembun. Dingin seketika menyergap ujung jari. Mengalir ke telapak tangan melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian tiba di hatiku.
Membekukan perasaan
Mengkristalkan semua keinginan
Sore ini, aku ingin menangis dalam kebahagiaan ini.

***
” ayolah, abang ingin hadiah apa? Ini kan hari spesialmu,”
Dia bertanya lagi.

Aku tetap menggeleng. Tidak. Aku tak ingin hadiah apa-apa. Lebih tepatnya, sejak kecil aku terbiasa dibesarkan tanpa hadiah, kejutan dan sejenisnya. Bagiku hadiah hanya berbentuk cerita-cerita menarik dari Bapak, dan masakan spesial mamak serta jenis hadiah yang tidak lazim yang kalian banyangkan.

” Abang sungguh tidak ingin hadiah apa-apa?” dia mencoba menggodaku.

Aku terdiam sejenak.

” Sungguh, abang tidak mengharapkan apa-apa. Abang hanya ingin Lili lekas sembuh,” aku menjawab terbata-bata.

Dia masih tersenyum. Menatapku. ” itu bukan hadiah bang, itu keniscayaan,”

Aku tertegun. Aku tak mengerti. Perkataan macam apa itu. Mengapa dia bicara tentang keniscayaan. Bukankah selama ini dia selalu cerita tentang sebuah optimisme. Tentang janji-janji masa depan.

Memang, beberapa bulan terakhir, dia terbaring lemas di atas tempat tidur. Dokter sudah memvonis sakitnya. Lihatlah, badannya mulai tampak kurus. Sakit itu perlahan menggerogoti tubuhnya. Padahal dulu ia adalah wanita  yang sangat enerjik, kreatif, brilian, aktivis mahasiswa, dan sungguh dia sangat ramah pada setiap orang.

Kawan, coba bayangkan, kali ini, dalam kedaan terbaring lemah dia masih sempat membuatku tersanjung.

” Bang, tersenyumlah. Tersenyumlah untukku ”
” Oya..apakah abang tahu. Abang adalah laki-laki yang baik. Teramat baik malah. Aku yakin, kelak, pasti sangat beruntung wanita yang mendampingimu, ”

C-u-k-u-p

Sungguh semua itu tidak akan berarti apa-apa tapna kesembuhanmu

Ya Allah.., lihatlah, Dia pandai sekali. Amat pandai membesarkan hati orang lain. Padahal aku tahu persis dia sedang menangis dalam senyumnya.

Tapi Mengapa, Tuhan? M-e-n-g-a-p-a ?

Ya tuhan.., jika hari ini aku berhak mengajukan sebuah permintaan, maka aku punya sebuah permintaan sederhana. Ya..,sangat sederhana. Tak lebih. Tak banyak, tak pula istimewa. Aku hanya ingin dia sembuh seperti sedia kala. Aku ingin kembali melihat senyum merekah di wajahnya. aku ingin dia merasakan sepotong kebahagian itu sekali lagi.

Dan sempurna. Saat bulir pertama airmataku jatuh, di luar hujan turun lebih deras. Petir menyambar terang menyilaukan. Berpilin-pilin. Langit entah darimana datangnya mulai terkepung awan hitam. Gelap. Guntur memekakkan telinga. Sungguh kacau balau keadaaan di luar sana. Sekacau suasana hatiku.

Manusia hanya berikhtiar, namun kehendak penguasa langit juga yang berlaku.



Rabu, 08 Juni 2011

Sedikit Falsafah

1. hanya orang2 yg suka ber-lebih2anlah yg punya sepatu/sandal mahal, apalagi malah mengkoleksinya... karena ketahuilah, saat kalian sedang ramai berpesta, berlalu-lalang di mall, di lobby2 gedung, kurang dari 1% orang yg sempat melirik kaki kalian.. coba buktikan datang ke sebuah acara ramai.. bahkan tdk ada yg nyadar kalau engkau datang cuma nyeker...

2. bahkan motivator paling ulung, group band paling ngetop, orator kelas berat, pernah (dan lumrah saja masih sering) grogi saat tampil di depan umum... jadi santai sajalah, tdk usah cemas... jgn lupa baca bismillah...

3.  hidup ini adalah ujian... kenapa begitu? karena meski kita semua tahu ujian itu berat dan menyebalkan... orang2 tetap saja sibuk membuat UTS, UAS, ujian nasional, ujian cawu-an, ujian les, dsbgnya...

4.  kalau kau ingin mengenali karakter orang dgn cepat dan tepat, perhatikan saja saat ada kejadian yg membuat panik, kaget, atau menakutkan tiba2... dengarkanlah kata yg diucapkannya... perhatikanlah ekspresi wajahnya...

5. Kalau qt  ingin tahu seberapa taat seseorang dgn sunnah Rasul... maka perhatikan ketika ia berwudhu... seberapa besar ia membuka keran air...

6. Teman, salah-satu syarat mutlak agar kau bahagia adalah: kau bahagia dan (memang) berbahagia melihat orang lain (teman, saudara, bahkan musuh) hidup lebih beruntung.

7. Cinta sejati tdk pernah datang dari satu-dua kejadian... satu-dua kalimat... cinta sejati adalah konsistensi dan komitmen panjang... dan kau tahu, sayang... ibu adalah cinta sejati-mu (soo..berhentilah meng-gombal-i anak gadis orang).

8.  kelak jika qt sukses, jgn pernah melawan, atau bahkan bertengkar dengan bapak, dan juga sekali-kali... jangan pernah sekali2 bilang 'ah' pada ibu-mu...

9. Jangan habiskan waktu untuk berdebat, sedikitlah bicara.. ahiya, karena besok saat kau besar dunia sudah banyak berubah, jgn habiskan waktumu utk 'menulis' mendebat sesuatu..

10. kalau ingin kaya, jadilah pedagang... jgn pernah jadi PNS, pejabat, guru, hakim, polisi, dsbgnya... itu tdk akan pernah membuat kau kaya... hanya koruptor2lah, pencuri uang yg kaya dgn profesi PNS!!!

11. kalau kau ingin hidup tenteram, tenang, maka jadilah petani (sebenar2nya petani)...

12.  Berpetualanglah melihat dunia... meski hanya ke kampung sebelah, meski sempat ke kota sekitaran, itu sudah awal yg baik untuk mengenal kehidupan orang lain... dgn berpetualang, akan semakin dewasa.. dan jelas, orang tdk bisa menceritakan lbh banyak soal dataran tibet sana dibanding qt melihatnya sendiri..

Minggu, 24 April 2011

BANGSAT


Aku berseru, menghentakkan sebuah Koran nasional ternama di tanganku.
Pramugari bahkan hampir saja menumpahkan kopi dari tekonya. Penumpang kelas eksekutif menoleh. Dan karena dua pejabat tinggi  itu persis di sebalah bangkuku, mereka orang pertama yang melongok padaku.
“Maaf, astaga, maaf aku sungguh tidak bermaksud demikian.” Aku mengangguk penuh penyesalan. menoleh ke sebelah, menatap mereka sambil menggeleng pelan.
“Maaf, aku sedang membaca berita, lihat, astaga, apa yang mereka tulis di koran ini? Wakil Rakyat kerjanya menghabiskan duit rakyat. Bergantian pergi plesiran ke luarg negeri.
Aku menghela nafas, benar-benar menyesal telah memaki di depan orang-orang berpendidikan.

Peraturan pertama: jika kalian ingin menarik perhatian seseorang (apalagi dua orang) dengan level yang sudah terlalu tinggi dibanding kalian, maka lakukanlah dengan cara ekstrem.


Peraturan kedua: dalam situasi frontal, percakapan terbuka, maka cara terbaik menanamkan ide di kepala orang adalah justru dengan mengambil sisi terbalik. Untuk sebuah kasus netral, yang boleh jadi orang tertentu sudah memiliki pendapat dan keberpihakan, ketika dia masuk dalam pembicaraan di mana salah-satu pihak terlalu kasar, terlalu menyerang, terlalu naif dan penuh kemarahan, orang yang telah memiliki pendapat dengan cepat bisa jadi mengambil posisi berseberangan tanpa dia sadari—dengan alasan mulai dari tidak mau kalah, ingin terlihat bijak; hingga alasan lainnya.
Sesungguhnya kita semua bereaksi sama dalam setiap percakapan, perdebatan, tidak peduli kalian pejabat tinggi negara, eksekutif perusahaan besar, atau sekadar sopir angkutan umum yang mangkal di perempatan atau pengangguran di kedai kopi.
Dua pejabat tinggi itu masih menoleh padaku, menyelidik sejenak. Ini detik yang krusial. Mereka bisa saja sekejap tidak tertarik membahasnya. Urung, berpikir cermat, buat apa menanggapi makian rekan satu pesawat, ada banyak yang harus dipikirkan, urus saja masalah sendiri—peduli amat dengan tampilannya yang meyakinkan.
Aku harus segera bertindak sebelum dua orang di sebelahku ini kembali sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri.
“Ini benar-benar kacau balau. Seharusnya pihak terkait, KPK, BPK lebih tegasApa saja kerja mereka selama ini? Lihatlah, anggota terhormat itu semakin tertawa menang.” Aku mengusap wajah, memasang wajah amat kecewa.
Nah, dengan kalimatku barusan, aku jelas sudah memecahkan bisul percakapan.
Inilah peraturan ketiga, peraturan paling penting : dalam sebuah skenario infiltrasi ide, jangan pernah peduli dengan latar belakang lawan bicara kalian. Konsep egaliter menemukan tempat sebenar-benarnya. Bahkan termasuk ketika kalian wawancara pekerjaan misalnya, sekali kalian merasa adalah ‘orang yang mencari pekerjaan’, sementara mereka yang menyeleksi adalah ‘orang yang memegang leher masa depan kalian’, maka tidak akan pernah ada dialog yang sejajar, pantas, dan mengesankan.
Aku sudah memulai percakapan itu dengan pembukaan ‘gambit menteri’ dalam pertandingan catur. Maka hanya soal waktu, percakapan seru selama satu jam itu bergulir.
“Tentu saja ini bukan semata-mata salah mereka. Dalam sistem paling baik sekalipun, ketika ada individu yang memang sudah jahat dari awal, dia bisa mengakali banyak hal. Usaha preventif, alert peringatan dini, peraturan-peraturan pencegahan, audit berkala, itu semua menjadi sia-sia. Bahkan sebenarnya kita sudah punya peraturan yang melarang kriminal menjadi pejabat public.” Dua pejabat tinggi itu berusaha menjelaskan dengan arif—meluruskan kalimat kasarku lima menit lalu.
Aku mengangguk mengamini.
“Situasi sekarang rumit, anak muda. Kau boleh jadi benar, kita sudah seharusnya menyelidiki kasus ini. ketika bola panas ini belum bergulir.” Lima belas menit berlalu, mereka sudah tahu namaku—demi sopan-santun pembicaraan, aku memperkenalkan diri.
“Tetapi sebenarnya mereka adalah perampok besar, Pak. Dan ibarat rumah, gedung itu aadalah rumahnya para perampok besar. Di mana letak rasa keadilannya?” Aku pura-pura masih tidak terima, tiga puluh menit pembicaraan, gelas kopi kedua dari pramugari terhidang.
Pejabat itu tersenyum, menggeleng, “Kau tidak mengerti permainan politik, John. Aku paham apa yang kau maksud, anak muda seperti kau terkadang terlalu emosional. Boleh jadi gedung itu adalah rumah perampok, tapi ketika dia terbakar di tengah angin kencang, musim kemarau krisis dunia, kalau kita biarkan sendiri, apinya akan menjalar ke rumah-rumah lain, bahayanya akan lebih besar lagi. Jadi pilihan terbaiknya boleh jadi memadamkan api rumah itu dulu. Urusan menangkap rampok, mengambil harta yang pernah dia rampok, tentu saja harus dilakukan sesuai koridor hukum yang ada.”
Aku menghela nafas, masih hendak membantah.
“Jangan lupakan satu fakta kecil, John, Kalaupun mereka pergi ke luar negeri, bukankah maksudny baik. Mereka melakukan study banding. Mereka ingin melihat etos kerja, kebudayaan dan bahkan system perekonomian negera tujuan. Nahh di harapkan, usai  itu, pemerintah kita bias meniru yang baik dari hasil studi banding tersebut, “ Pejabat yang satu lagi coba meyakinkan.
Empat puluh lima menit berlalu, sebentar lagi pesawat mendarat, hanya soal waktu tanda safety belt kembali menyala. Dua pejabat itu sempurna sudah ‘menguasai’ pembicaraan, berhasil memberikan pemahaman yang baik kepadaku tentang wisdom dan berhentilah kasar menilai. Kebijakan bukanlah ilmu pasti, sepintar apapun kau.
“Kita tidak tahu. Belum.” Pejabat itu menggeleng takjim, “Boleh jadi besok siang, boleh jadi besok malam, KPK akan menggiring mereka ke jeruji besi. Hari ini seluruh media massa seperti sudah tahu rilis terbaru dari kedok studi banding itu. Oh..,iya, rasa-rasanya aku pernah bertemu dengan kau, John?”
Aku ikut tertawa, “Mungkin kita pernah satu pesawat, Pak. Dan Bapak waktu itu juga pernah melihat anak muda yang mengeluarkan makian.”
Mereka berdua tertawa.
Lampu safety belt menyala. Pesawat yang kami tumpangi siap mendarat. Satu-dua kalimat basa-basi penutup percakapan, “Terima-kasih banyak atas pembicaraan yang hebat ini, Pak. Aku jadi memahami banyak hal.” Aku mengangguk. Mereka tersenyum.
Di lorong garbarata turun dari pesawat, salah seorang pejabat itu sempat menepuk bahuku, “Aku tidak mungkin salah. Aku pernah bertemu dengan kau, John. Kau ikut hadir di konfrensi di Jenewa, bukan? Kau bangsat, John, eh maksudku anak muda yang berkelas. Esok-lusa, siapa tahu jika kau tertarik menjadi pejabat publik, kau bisa menjadi pejabat yang lebih baik, berani, dan taktis dibanding kami. Ini antara kau dan aku saja,”.
Teringat masa kulyah. Dulu waktu masih aktif di kampus, kami selalu dipanggil BANGSAT.., karena biasa, mahasiswa  paling pintar, kritis dan berani mengambil resiko dipanggil dengan sebutan bangsat. Kalimat makian kau tadi mengingatkanku banyak hal.


Selasa, 12 April 2011

Jangan Dibuat Rumit

Kawan, sebenarnya awak boleh jadi tak patut untuk  memberikan petuah. karena awak bijak jauh, bestari apalagi... awak juga sama seperti kebanyakan kita, hidup sempit ditengah rutinitas menjepit. sementara mimpi2 berbuat baik, idealisme bersimbah indahnya keihklasan, dan kesederhanaan hidup dibungkus harapan semakin jauh dari kenyataan...
tapi kali ini, kawan, biarlah awak menulis sesuatu yang mungkin berguna. Tulisan  yang tidak hebat, tapi tidak juga biasa2... tulisan yang sedang2 sajalah...
Kawan, ketika kita  tak kunjung bisa berlari dari keseharian. ketika kita tak jua bisa mengambil keputusan. terlalu takut dengan ketakutan itu sendiri. terlalu banyak berhitung. terlalu banyak membandingkan ukuran2 dunia yang bergelimang materialitas dan arena sikut-menyikut, maka dengarlah kawan: ketika semua itu terjadi, kita  boleh melakukan apa saja, berteriak, jengkel, marah, mengadu, melempar, berlari, dan sebagainya, tapi jangan pernah... jangan pernah sekali2 membuat hidup ini rumit. 
Jangan pernah membuat hidup kita  rumit... karena hidup ini semakin lama sejatinya memang tidak sederhana lagi.
Ada banyak kesenangan di sekitar kita. ada banyak hakikat hidup yang muncul dari cara2 sederhana... berbuat baiklah.. jadikankan setiap kita bernafas, semangat untuk menjadi bagian kebaikan selalu terhembus, semangat untuk menyebarkan ketulusan selalu terhisap... jika kita tidak ditakdirkan untuk merubah dunia, maka boleh jadi kita  ditakdirkan untuk merubah nasib satu tetangga yang malang, satu sanak-saudara yang terhimpit... berbagi, sekecil apapun yang kita miliki... bersyukur, sekecil apapun yang kita terima...
Mudah ??? tentu saja tidak, kawan... tapi jika terbiasa, perlahan tapi pasti, tingkat kebahagiaan dan keniscayaan hidup kita  akan berbeda... ah, awak juga tidak pernah tahu apakah hidup awak ada kemajuan... tapi setidaknya, kemaren saat melihat ada anak2 yang bermain kejar-keran di tepi pantai,.. tertawa2 bersama temannya.. awak menyadari satu hal: perjalanan  awak sudah terlalu rumit untuk dibuat rumit lagi...

Jumat, 25 Maret 2011

Tangisnya Mengundang Hujan

Kesenangan melingkupi rumah kami. Beduk ditabuh bertalu-talu. Dalam irama berupa-rupa. Sedikit kasidah, menyerupai orkes melayu. Dangdut sedikit ngerock, pop mellow juga ada. Bukankah tidak ada standar baku dalam hal menabuh beduk? bahkan di mushollah sebelah gang, ada yang pakai gaya jazz full-swing segala, ada juga di surau pojok jalan, pakai gaya pop rege ala Bob Marley.
Malam ini : malam takbiran
Malam kemenangan, kami menyebutnya. Kami semua berlomba menggemakan asma Tuhan. Mulut-mulut mendesah atau malah berteriak seperti adik-adik asramaku yang berebut mik.
Tidak kawan, cerita ini tidak berbicara tentang takbiran, beduk, pop, rock, dangdut, rege atau lebih sempitnya dunia musik. Tidak.
Kali ini aku akan membicarakan tentang rumahku. Ya rumahku. Sebuah yayasan panti asuhan di kota idaman, nan sejuk sana. Tempat anak-anak tidak beruntung ditampung disana. Masa-masa dimana mereka seharusnya bisa hidup indah, masa dimana mereka seharusnya bercengkeramah dengan kedua orang tuanya sambil memamerkan pontennya hari ini, lalu dibelai sembari ayahnya berkata “ ayah bangga padamu, nak”.
Di bagian dalam, rumah kami lebih “bersinar”. Sempurna dengan sinar yang lebih terang. Adik-adik asramaku,  berlarian sibuk memamerkan baju baru, sandal baru, peci baru dan sarung baru untuk  dipakai shalat Id esok. Mereka tidak peduli dengan teriakanku supaya diam, karena aku sedang asyik mengejar khatam qur’anku pada bulan Ramadhan kali ini. Mereka sedang asyik jahil-mejawil, dorong mendorong. Sambil mulut terus mengunyah makanan kecil pemberian tamu tadi sore. Mereka tertawa.
Sadaqallahul’azim..
Alhamdulillah aku bisa mengkhatamkan qur’an walau dengan background sound suara riuh ribut mereka.
Sayang, seribu kali sayang, ketika malam ini seluruh bumi buncah oleh suka cita. Aku melihat kesedihan yang memancar di mata salah seorang adikku. Namanya Anggie, Anggi Saputra lengkapnya. Bocah tujuh tahun ini sedang duduk di tangga tiga tingkat di depan kamar kami. Dia duduk sambil memeluk kedua lulutnya dan kepalanya menunduk ke bawah. Air mata menetes perlahan.
Bocah kecil itu menatap kosong keramaian di halaman. Mata indahnya redup, menyimak teman-temannya yang asyik berlari-lari, bersorak sorai sambil menyalakan kembang api kecil.
Anggi mendesah ke langit-langit malam.
bocah kecil itu sedih, dia tidak tahu  apa itu lebaran. Ia tidak mengerti ketika teman-temannya ramai bercerita tentang makan besar esok hari. Teman-temannya ramai bercerita tentang hadiah.
Anggi rindu ayah-bundanya. Itulah yang ia paham. Tapi bagaimalah ia akan bertemu dengan ayah-bundanya jika bocah kecil ini bahkan sejak lahir tidak mengenalnya. Tiada foto walau sehelai yang ia simpan. Jangankan wajah, suarapun Anggi tak pernah dengar. Bahkan ia ditemukan  oleh seorang pengemis tua yang kebetulan melintas diperempatan lampu merah. Tidak sengaja ia melihat  seorang bocah tergeletak di perempatan lampu merah itu sambil menangis. Umur bocah waktu itu belum genap 3 tahun. Di malam hujan lebat, petir menyambar-nyambar, si-pengemis tua mengantarkan Anggi ke Yayasan Panti Asuhan tempat kami dibesarkan. 
Esoknya, pihak Panti menyebarkan foto Anggi di seluruh Koran dan Stasiun TV di Provinsi kami, barang kali ada orang tua   yang kehilangan anak. Satu minggu berlalu, satu bulan berjalan, tidak ada satu orang-pun datang ke asrama kami yang mengaku sebagai orang tua, ataupun kerabat dari bocah itu.
Ya, Allah sungguh tega sekali. Apa salah Anggi, sehingga dia di buang sedemikian rupa. Salahkah ia bila terlahir tanpa diinginkan.
Maka  seluruh pengurus Asrama sepakat untuk membesarkan bocah itu, serta pengasuh menganggap Anggi sebagai anaknya sendiri.
Empat tahun berlalu,  malam ini Anggi bertanya tentang banyak hal. Sibuk bertanya tentang ayah-bundanya. Sibuk mengeluh. Sibuk protes, kenapa Pengasuh Asrama, malah sibuk mencatat dan membagikan kiriman parsel lebaran. Tidak mendengarnya keluhannya. Merasa diacuhnya, dia menyingkir dengan hati kecewa.
Aku mendekat. “ Anggi ingin sendiri” katanya.
Aku mendekapnya. Mengelus kepalanya. “ Semua berjalan sesuai dengan rencana-Nya,” aku bilang.
Bang, Anggi ingin bertanya langsung kepada Tuhan, tanpa perantara, “ katanya.
Maka kepala mendongkak ke atas, mencari muka Tuhan yang konon kata ada di mana-mana. Demi Tuhan, sungguh menggetarkan sekali mendengar pertanyaan yang polos itu. Anggi menginginkan jawaban yang sederhana. Tidak lebih, tidak kurang. Karena Engkau selalu menjawab setiap pertanyaan. Tapi Anggi tidak tahu itu, ia terlampau kecil untuk mengerti. Dia sedih, maka perlahan air mata menetes di pipinya.
Angin semilir yang lembut justru menikam perasaannya.
Setelah kian lama menunduk, pegal. Kepalanya mendongak. “ bang, kalau orang lain punya ayah, kenapa Anggi tidak ? kalau anak lain punya ibu, kenapa Anggi tidak ? Anggi tidak berharap banyak, Anggi hanya ingin, saat puasaku genap 30 hari, Anggi hanya ingin bercerita kepada ayah-bunda, bahwa Anggi akan menjadi anak yang sholeh. Anggi tidak berharap hadiah seperti yang lain, “.
Ya Tuhan, anak sekecil ini mengajukan pertanyaan yang sangat sulit untuk ku jawab. Karena aku sendiri memendam pertanyaan tersebut dari 10 tahun yang lalu. Sampai sekarang belum jua kutemukan jawabannya. Jadi penjelasan apa yang harus ku jelaskan.
“ Anggi, ayah-Ibu Anggi pasti sangat bangga pada Anggi, yakinlah, mereka sangat menyayangimu. Anggi harus rajin belajar ya.., rajin shalat, mengaji dan berdoa, maka suatu saat Anggi pasti akan tahu sendiri jawaban dari pertanyaan Anggi tadi, “ hanya itu yang dapat kuucapkan.
Dan sempurna, saat bulir pertama air mata kami jatuh, seketika petir menyambar terang menyilaukan. Disusul Guntur menggelegar. Langit indah terusir sudah. Bintang gemintang lenyap tak berbekas, digantikan angin kencang. Dan sekejap hujan turun dengan lebatnya. Membasuh kota kami, membasahi rumah kami. Dan aku harus bergegas mencari ember guna menampung air hujan yang jatuh lewat celah-celah atap seng yang bocor.
Takbiran di jalan sudah bubar. Orang sibuk berlindung dari derasnya hujan. Beduk-beduk ditinggalkan, galon plastik dilempar sembarangan. Sarung-sarung diangkat, digunakan untuk menutup kepala. Peci miring, semakin miring. Lihatlah hujan merusak makna lebaran tahun ini.
Anggi tidak berlindung, ia tidak menghindar. Bocah kecil itu masih diam mendekap erat kedua lututnya. Tubuhnya basah, sebasah perasaannya. Terisak.
Pengasuh Panti tadi pagi marah kepadanya, Anggi menyesal. Bukankah pengasuh Panti sudah amat baik selama ini. Banyak bercerita, banyak tertawa, mengajarkan mengaji, membaca. Kenapa Anggi malah sibuk bertanya soal ayah-bunda. kenapa  Anggi bertanya tentang itu setiap hari, tiap bulan, oi..setiap tahun malah. Sudah seperti minum obat. Seharusnya Anggi membantu Pengasuh membersihkan halaman, membuang sampah. Bukankah Anggi anak yang baik.
Tapi ia terlanjur menonton iklan di TV yang menayangkan kebahagiaan mereka  yang menyambut lebaran bersama kedua orang tua mereka. Pergi bersama shalat Id di lapangan. Berpegangan tangan, berjalan bersisian. Salam, saling berpelukan setelah shalat Id. Oi.. sungguh cemburu ia.
Anggi menangis lagi, sebenarnya urusannya malam ini amat sederhana. Ia rindu ayah-bunda.
Maka ketahuilah kawan, malam itu dan juga sepanjang malam sesudahnya, kota sejuk kami selalu turun hujan lebat ketika bocah kecil polos itu menangis. Itulah rahasia Tuhan, tangis bocah itu bisa mengudang hujan.

Note : tulisan ini seutuhnya aku dedikasikan buat adik-adikku yang sedang tersenyum cerah disana. Secerah sinar yang selalu terang benderang di atas rumah asrama kita. Aku mencintai kalian karena Allah.

Senin, 21 Maret 2011

3 Helai Janji

Malam itu,
saat itu,
di tempat paling gelap,
paling lembab, pojok kamarku,
telah kutinggalkan sebuah asa,
kukubur dalam-dalam dengan serunai,
jemari gemetar, hati tersiram,
lantas dengan segenap sisa kekuatan,
kututup rapat-rapat dengan 3 helai janji,
helai pertama: janji tak akan kembali,
helai kedua: janji tak akan menunggu,
helai ketiga: janji untuk memperbaiki-diri
ihklas dgn "KEPUTUSAN" terbaik

dulu, disinilah, aq menyimpan hati,
tumbuh rimbun bambu gading berdaun jingga,
malam ini, sayang, hanya mekar kecambah jamur yg ada,
patah ujungnya, ringkih akarnya,
berserak ulat, rakus mendekat,
tdk bersisa, tdk berjejak,
m-a-t-i....

Minggu, 20 Maret 2011

Bumi Seribu Domba


Di tempat ini, di bumi seribu domba, padang rumput luas membentang sejauh mata memandang. Ini adalah anugrah..
Di tempat ini, di bumi ketika kembang2 bermekaran membuat putih langit, harum semerbak menyergap hidung. Ini harus disyukuri…
Tengoklah..,pengembala, anak2 bertelanjang dada berkejaran, sebungkus nasi di balut daun pisang untuk bekal siang ini. Nyala api dan tertawa riang…
Kami jumlahnya berates., beribu bahkan berjuta…
Gergenerasi..,berbilang kakek, kakeknya kakek.., bermoyang.., moyangnya moyang hingga ke atas-ke atasnya lagi..
Beranak pinak, berbilang cucu, cucunya cucu.., berpiut.., piutnya piut,, hingga ke bawah- ke bawahnya lagi…
Hirarki panjang rantai keturunan.., tp apapun itu kami adalah satu..
Hingga masa itu tiba..
Lebih kelam dibandingkan ambisi Jengis Khan yang ingin menguasai benua timur menjadi satu dibawah kakinya..
Lebih kejam dibandingkan serbuan invasi ratusan ribu prajurit hitler dan Stalin yang tidak cukup puas dengan tanahnya..
Sungguuh menyedihkan.. karena itulah, saat saat padang rumput kami ditadangi musuh yg tidak bias ditusuk perutnya, tidak bisa dirantai tangannya.., bahkan tidak bs dilihat wajahny…
Badai menyergap negeri kami…
Gempa melanda negeri kami..
Lahar menyeruak keluar dr penut bumi kami..
Wahai Lihatlah.., badai datang bergelung tinggi.., kelabu jingga, mengerikan.., menggulung kuda, menarik domba.., tenda, tungku anak2 mereka…
Berhenti sejenak hanya untuk membiarkan kami menatap gelimpang sisa ganasnya..
Setahun berlalu, kami hanya bisa meringkuk ketakutan di lubang2 tanah persembunyian berharap semua akan berhenti..
Tapi itu tidak pernah kunjung jadi..
Negeri ini seperti sudah dikutuk bumi.
Hingga saat asa tak lagi bersemi..
Hingga mimpi tak lagi datang..
Hinga tak ada lagi bunga bermekaran..
Tak ada lagi rumput bertumbuh..


Nota : tadinya aq ingin bikin tulisan in I macam gurindam 12 khas melayu.., kata2nya berunut berirama…